24 Januari 2018 | Suara Banyumas

Galeri Tak Lagi Miliki Lukisan Asli

  • Senjakala Lukisan Sokaraja (2-habis)

SURUTNYAjumlah pelukis pemandangan asli Sokaraja turut berimbas pada galeri, tempat menjual lukisan itu. Dari puluhan kios, hanya ada dua yang bertahan hingga saat ini, HF dan Keluarga. Galeri Keluarga, terletak di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, tak jauh dari Galeri HF.

Ruangan berukuran 7 x 4 meter dipenuhi puluhan lukisan. Kios mini ini tak pernah berubah sejak lebih dari 30 tahun lalu. Semasa lukisan menjadi primadona di kawasan ini. Dahulu, bus-bus besar datang sekadar singgah untuk membeli lukisan sebagai cinderamata. “Harga (lukisan) sejak dahulu terjangkau. Tahun 1960 itu sekitar Rp 6. Lambat laun naik sampai Rp 10.000 di tahun 1970-an, tergantung ukurannya.

Biasanya, yang beli wisatawan dari luar daerah. Malah dipasarkan sampai ke Singapura dan Malaysia,” kata Syarief (73) pemilik galeri tersebut, tempo hari. Galeri itu diberi nama Keluarga, lantaran perupa yang menitipkan karyanya masih terhitung sanak famili Syarief sendiri. Mereka bergantung dari tamu yang datang ke kios di Jalan Jenderal Soedirman 57Aini.

Meski demikian, dia mengaku tak ingat waktu pertama kali membuka usaha tersebut. Ia hanya teringat, kala itu pelopor lukisan Sokaraja, Ismail, mulai berjualan lukisan. Goresan bergaya naturalis itu laku keras.

Alat Sederhana

Perlahan, warga di sekitar kampung Sokaraja Kidul mulai ikut-ikutan melukis. Mereka berguru pada Ismail dan berlatih secara otodidak. “Pelukis disini hanya memakai alat sederhana. Pakai cat air dan kain blacu, kadang juga memakai bekas kantong terigu atau beras yang di eratkan dengan tepung kanji. Ada dua ukuran kanvas 60 x 80 sentimeter. dan 60 x 120. Kalau yang besar itu kainnya harus disambung,” katanya. Kini kemonceran galeri milik Syarief ini semakin surut.

Tamu yang datang pun semakin jarang. Bahkan, dia mengaku tak lagi memiliki lukisan asli karya seniman Sokaraja. Untuk bertahan hidup kakek empat cucu ini membuka warung bakmi. “Yang masih dipajang ini sudah campuran. Tidak hanya dari Sokaraja, ada yang dari Purbalingga, Banjarnegara. Kalau yang asli, saya sudah tidak punya,” ungkapnya.

Gaya melukis seniman Sokaraja banyak dipengaruhi oleh sang guru yang notabene bekerja sebagai pedagang. Lukisan-lukisannya dihasilkan sewaktu sedang berkeliling dari kota satu ke kota lainnya. “Eyang itu pedagang. Waktu berjualan dia berhenti sejenak untuk melukis karena melihat pemandangan yang indah,” tutur cucu Ismail, Andri Lutfi Ismail (35).

Di kemudian hari, lukisan Ismail ini dikenal dengan sebutan indie mooij atau pemandangan alam. Paling banyak merupakan gambaran langit yang cerah, air selalu bening, mengalir tanpa gejolak, pemandangan gunung, hamparan sawah dengan padi yang menguning, telaga dan sungai yang mengalir jernih.(Nugroho Pandhu Sukmono-72)

Berita Lainnya