22 Januari 2018 | Fokus Jateng

Teringat Guru Galak dan Murid Nakal

  • Temu Kangen Sekolah Karangturi 54-90

SEMARANG- Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih anak didik kepada guru, salah satunya lewat ‘’Bakti kepada Bapak-Ibu Guru’’ yang digelar Alumni Sekolah Karangturi Angkatan 1982 (Gaok 82), di Admiral Ballroom, Semarang, Sabtu (20/1).

Sekitar 770 murid angkatan 1954-1990 beserta 60 guru dan karyawan Sekolah Karangturi berkumpul dan melepas kangen dalam acara tersebut.

Tak hanya itu, pertemuan juga diisi dengan mengenang masamasa indah bersekolah di kampus Jalan MT Haryono (Mataram), yang dulu dikenal sebagai Sekolah Gaok, karena saat itu banyak burung gaok yang bertengger di atap sekolah.

‘’Karena itu pula kami menamakan alumni dengan Gaok yang diambil dari burung yang waktu itu banyak beterbangan di lingkungan Sekolah Karangturi dan dijadikan lambang sekolah,’’ kata Beantari Budiman, anggota Gaok 1982 yang juga panitia acara tersebut.

Kegembiraan bisa bertemu dengan rekan, sahabat, dan anakanak didik yang mayoritas kini telah sukses dan tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari pengusaha kuliner, properti, agrobisnis, peternakan, dokter, arsitek, hingga pimpinan perusahaan, membuat suasana menjadi sangat meriah.

Karena Cinta

Apalagi, saat Humas Sekolah Karangturi, Irawan Nirwanto, didaulat menjadi MC, memandu beberapa guru dan murid untuk menceritakan pengalaman mereka. ‘’Saya sangat terharu, muridmurid kami masih ingat dengan gurunya.

Kami yang sudah tua-tua ini bangga melihat anak-anak yang dulu kami didik sudah menjadi orang. Kalau dulu saya galak, itu bukan berarti saya benci, tapi karena cinta,’’ tutur Liem Ngo Soen, guru TK yang Februari nanti genap berusia 98 tahun.

Kecintaan Ibu Liem terhadap anak-anak didiknya memang terbukti. Tidak sedikit dari alumni yang mengaku memiliki kenangan indah bersamanya.

‘’Saya masih ingat betul waktu Ibu Liem mengajar menyanyi. Sampai sekarang lagu-lagunya masih saya hafal,’’ kata Inggil, Gaok 77, yang spontan mengajak Ibu Liem menyanyikan lagu ‘’Desaku’’.

Suasana bertambah gayeng saat satu per satu menceritakan pengalaman mereka, mulai dari keisengan hingga kenakalan yang pernah mereka buat.

‘’Waktu itu pelajaran olahraga, anak-anak yang sedang berganti pakaian di kelas tiba-tiba menjerit dan naik ke meja, ternyata ada yang sengaja melepaskan ular.

Anak itu terpaksa kami hukum skors tiga hari,’’ cerita salah seorang guru. Lain lagi pengalaman Soebianto, guru SMP. Dia mengatakan, kenakalan anak-anak, baginya merupakan hal yang wajar.

‘’Apalagi di usia remaja, mereka memiliki energi yang berlebih, wajar kalau nakal dan biasanya aktif dalam pelajaran olahraga. Bedanya, kalau dulu anak-anak semangat disuruh lari keliling sekolah, tapi sekarang belum apaapa sudah banyak yang mengeluh capai,’’ katanya.

Acara yang diisi dengan pemberian plakat penghargaan untuk para guru itu, ditutup dengan pemotongan kue Ulang Tahun Ke- 88 Karangturi yang dilakukan Budi Darmawan. Ketua Panitia Julia Budiman mengharapkan, alumni bisa terus bersama-sama melanjutkan kepedulian dan bakti kepada para guru.

‘’Masih ada satu impian besar kami, yakni mendirikan rumah Gaok, di mana nanti alumni dapat menjalani kehidupan pada usia senja secara bersama-sama. Dukungan dan doa restu seluruh Gaokers kami harapkan untuk mewujudkan mimpi ini,’’ papar Julia.(D2-27)

Berita Lainnya