image
14 Januari 2018 | Berita Utama

Analisis Berita

Head-to-Head, Pilgub Jateng Lebih Kondusif

  • Oleh A Zaini Bisri

PETApolitik Pilkada 2018 sudah tergelar. Pilkada yang berdekatan dengan Pemilu 2019 ini selalu diproyeksikan sebagai ajang konsolidasi partai- partai menghadapi pesta demokrasi lima tahunan itu. Apalagi pemilu legislatif dan pilpres nanti akan berlangsung serentak.

Terlihat bagaimana koalisi dalam pilkada memang dipersiapkan untuk menjajaki koalisi dalam Pilpres 2019. Dari berbagai varian koalisi pilkada, khususnya pada 17 provinsi yang akan menggelar pilgub, dan lebih khusus lagi di Jawa, formasi koalisi dalam Pilpres 2019 sudah mulai tampak.

Namun, di sisi lain, sangat jelas terlihat koalisi pragmatis dan sentralistis masih menonjol. Partai-partai cenderung memilih opsi yang lebih menguntungkan secara politik dan ekonomi. Opsi ini kemudian mendorong pemilihan calon kepala daerah yang lebih ditentukan oleh pusat, sehingga sejumlah kader daerah yang potensial tergusur oleh kader drop-dropan. Sebagian lagi bahkan diisi oleh tokoh di luar partai.

Wajar jika muncul anggapan kalau partai-partai telah gagal dalam kaderisasi calon pemimpin. Namun ’’kegagalanî atau ’’kecelakaanî ini di sisi lain berimplikasi positif, yakni membuka peluang bagi tokoh-tokoh di luar partai yang populer dan punya kapasitas untuk maju dalam pilkada.

Gerindra terbanyak memajukan tokoh di luar partai dalam pilgub kali ini. Ada Mayjen TNI (Purn) Sudrajat di Jabar, Letjen TNI Edy Rahmayadi di Sumut, dan Sudirman Said di Jateng. Majunya Sudirman ikut menyelamatkan Pilgub Jateng. Keberaniannya menghadapi petahana Ganjar Pranowo memecahkan kebuntuan.

Nama lain yang banyak disorot adalah Khofifah Indar Parawansa. Dia dianggap sebagai perempuan petarung ulung. Sudah dua kali kalah dalam Pilgub Jatim tidak membuatnya kapok. Pesona pribadinya dan keluwesannya dalam bergaul di kalangan elite politik membuat tokoh yang tidak bergabung ke partai manapun ini mampu membuat banyak partai kepincut.

Polarisasi Jateng

Pertarungan politik dalam pilgub di Jawa kali ini bukan saja menarik dilihat dari proyeksinya menjelang pilpres, tetapi juga dari format dan nuansa kompetensinya. Jatim seharusnya mengikuti pola Jabar dengan banyak pasangan calon karena tidak ada gubernur petahana. Namun Jatim mentok pada dua pasangan calon. Semua partai terkungkup pada kapasitas tokoh yang mengerucut pada dua nama: Saifullah Yusuf dan Khofifah.

Kondisi inilah yang menimbulkan sejumlah drama ketegangan dalam proses awal koalisi. Ada kasus mundurnya Abdullah Azwar Anas dan munculnya nyanyian La Nyalla Matalitti. Kekecewaan La Nyalla terhadap Gerindra tidak terlepas dari kebuntuan poros baru di luar Gus Ipul dan Khofifah.

Meski sama-sama tergelar pertarungan head-to-head dengan hanya dua pasangan calon, Pilgub Jateng dinilai lebih kondusif dibanding Jatim.

Pilgub Jatim diprediksi akan panas dengan terbelahnya suara Nahdliyyin dan PDIP. Suara NU akan terbelah dalam kubu struktural (PKB) dan kultural (pesantren). Suara PDIP di Jatim barat (wilayah Mataraman) dan Jatim timur (wilayah Pendalungan) akan bersaing keras.

Di Pilgub Jateng juga diprediksi akan terjadi persaingan suara di wilayah pantura timur dan barat. Pengaruh Kiai Maimoen Zubair di pantura timur lewat Taj Yasin akan bersaing dengan basis suara Sudirman Said di pantura barat.

Suara NU kultural juga akan berpacu dengan suara NU struktural (PKB). Penentunya adalah mesin partai dan persepsi pemilih terhadap figur calon.

Polarisasi politik di Jateng diperkirakan tidak akan sekeras di Jatim karena faktor kultur sosial dan gaya komunikasi kandidat, meski kontestasinya antara petahana dan penantang.

Baik Ganjar maupun Sudirman sama-sama melihat rivalitas ini sebagai proses demokrasi yang beradab. Ganjar mengajak Sudirman untuk mengedepankan kampanye program. Sudirman membujuk Ganjar untuk berkompetensi secara santun demi Jateng yang lebih maju.

Komunikasi semacam ini diharapkan menjadi awal yang baik bagi pendidikan politik dan pengkondisian kompetisi pilgub yang sehat.(15)

SMCETAK TERKINI