13 Januari 2018 | Fokus Jateng

Harga Beras Medium Naik

  • Disperindag Cek Lapangan

SEMARANG- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah bersama Kementerian Perdagangan dan Bulog Sub-Divre Semarang memantau ketersediaan beras medium di pasar tradisional, pengecer, dan distributor di Semarang.

Hal ini untuk mengetahui stok beras medium dan harga eceran tertinggi (HET). Kepala Disperindag Jateng M Arif Sambodo mengatakan, pengecekan lapangan dilakukan, karena ada kecenderungan harga beras level medium yang merangkak naik.

Selain itu, juga memastikan operasi pasar (OP) beras dari Bulog di pasar tradisional atau pengecer yang menyediakan beras medium HET seusai sasaran, dan untuk menekan harga beras medium yang beredar di pasaran.

''Pantauan bersama tim untuk mengecek stok beras medium dan harga HETdi pasaran. Karena ada kecenderungan harga beras medium naik di atas HET, padahal yang ditetapkan di wilayah Jateng maksimal Rp 9.450.

Namun, sekarang harga sampai Rp 11.100/kilogram,'' kata Arif Sambodo saat sidak di Pasar Johar Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kamis (11/1).

Karena itu, lanjut Arif, tinjauan lapangan tersebut dalam rangka menindaklanjuti kebijakan Kementerian Perdagangan kepada Perum Bulog untuk melakukan OPkhusus beras medium sampai tanggal 31 Maret.

Bulog juga telah menggelontorkan beras medium melalui operasi pasar setiap hari di enam Sub-Divre di Jawa Tengah, yaitu Sub-Divre Banyumas, Pati, Semarang, Pekalongan, Kedu, dan Surakarta. Demikian pula titik-titik penyaluran beras OP medium terus ditambah. ''Jadi, OP di Jateng hingga 31 maret.

Sampai melewati panen raya dengan harapan harga tetap terjaga, bahkan bisa ditekan atau di bawah HET. Untuk mempercepat penyerapan beras medium Bulog, ditargetkan sampai akhir Maret ada lebih 111 titik penyaluran OP beras medium di seluruh Jateng.

Misalnya, Kota Semarang sudah 15 titik, harapannya sampai Maret ada 70 titik. Sebenarnya beras medium ini dimunculkan sebagai pilihan agar mereka kelas menengah ke bawah masih bisa membeli beras dan terjangkau daya beli,'' ungkap Arif Sambodo.

Stabilkan Harga

Sementara Kepala Sub- Bagian TU Biro Perencanaan Kementerian Perdagangan Harjono mengatakan, pantauan tersebut bertujuan untuk menstabilkan harga beras, khususnya level medium.

''Untuk bersaing dengan beras medium yang sudah ada di pasaran, harga beras OP Bulog di konsumen harus selisih Rp 100 di bawah HET atau Rp 9.350. Di samping itu, pedagang juga melayani eceran, walupun sudah ada kemasan 5, 10, atau 25 kilogram,'' papar dia.

Sementara itu, Wakil Kepala Bulog Sub-Divre Semarang Sri Rejeki menyatakan tidak ada masalah mengenai stok beras medium. ''Dengan mekanisme terbaru yaitu melalui distributor, berapa pun permintaan pasar tetap kami layani.

Ada sekitar 30 penyalur di Sub-Divre Semarang dan yang sudah diproses yang kemudian disalurkan kepada mitra sebanyak 3.000 ton,'' tuturnya.

H Handoyo (60), pedagang beras di Pasar Johar Kompleks MAJT mengatakan sudah memasarkan beras medium dari Bulog sejak awal Januari. Pihaknya memilih memasarkan kepada konsumen dalam bentuk kemasan lima kilogram. Selama awal Januari hingga saat ini pihaknya mampu menyerap beras Bulog sebanyak enam kuintal.

''Banyak yang tanya beras murah dari Bulog, tapi yang beli memang dari warga yang tidak mampu, sehingga kami hanya menyediakan sesuai permintaan. Kalau stok menipis baru kami minta dikirimi lagi, nggak berani stok banyak,'' katanya.(G4-27)

SMCETAK TERKINI