image

SM/Yusuf Gunawan - BELI NAGA: Sejumlah pembeli berebut membeli buah naga yang diobral di Pasar Gede, Jumat (12/1), dalam rangka perayaan 88 tahun pasar tradisional tersebut.(20)

13 Januari 2018 | Solo Metro

10 Ton Buah Naga Diobral di Pasar Gede

SOLO- Ratusan pembeli memborong buah naga yang diobral di Pasar Gede Solo, Jumat (12/1). Lantaran pembelinya membeludak, 10 ton buah naga yang disediakan pedagang habis dalam sekejap. Maklum saja buah tersebut dijual murah hanya seharga Rp 5.000 per kg.

Biasanya, menjelang Imlek, harga buah naga itu mahal, paling tidak Rp 10.000 per kg. Pembeli dibatasi hanya 5 kg. Lebih dari itu mereka diminta mengurangi buah naga yang dibeli atau memilih buah naga yang berukuran kecil.

”Ketika melihat ada spanduk promo buah naga. Saya cepatcepat membeli. Mumpung harganya murah hanya Rp 5.000 sekilo, jadi saya sempatkan membelinya,” kata salah seorang pembeli, Mukti. Pemilik kios buah naga sekaligus humas panitia ulang tahun Ke-88 Pasar Gede, Agung Bagong mengatakan, harga buah naga hari biasa mencapai Rp 10.000 perkilo.

”Hari biasa kami jual Rp 7.000-10.000 per kilogram. Khusus untuk HUT Pasar Gede kami jual Rp 5.000 per kilogram,” tandasnya. Makan Bersama Koordinator Penyelenggara Komunitas Paguyuban Pasar Gede (Komppag), Wiharto, mengatakan, dalam rangka merayakan 88 tahun Pasar Gede kali ini, pihak panitia mengambil tema ”Kembul Agung Windu Welasan”. Menurut dia, kembul memiliki makna makan bersama dalam satu bejana. Windu adalah sebuah episode periodik delapan tahun dan perhitungan Jawa.

Sedang Welasan itu perhitungan ke sebelas dalam episode Windu. Welasan sendiri bermakna kelurahan hati. Sebanyak 150 pedagang Pasar Gede berkontribusi mensukseskan hari lahirnya pasar tradisional itu, demikian juga masyarakat. Selama perayaan, Perlindungan Masyarakat (Dalmas) Polresta Surakarta, menunjukkan kebolehannya dalam mengolah kepala naga dalam pentaa barongsai.

Selain itu tarian reog Ponorogo ikut menyemarakkan acara. Sebanyak 88 tumpeng diarak memutari gedung pasar. Tumpeng itu merupakan persembahan para pedagang untuk masyarakat yang berbelanja di pasar. ”Kami mempersembahkan sebanyak 88 tumpeng untuk pembeli di Pasar Gede. Setelah acara nanti kami akan membagi-bagikannya kepada pembeli yang hadir,” kata Wiharto.

Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Surakarta, Subagiyo yang didampingi oleh ketua koordinator Komppag. Subagiyo berharap pasar tradisional itu terus berdiri walau pun teknologi berbelanja sudah berbasis online. ”Semoga tahun ke 88 ini Pasar Gede menjadi pasar yang terus bertahan dan menjadi pasar tradisional yang menguntungkan perputaran ekonomi Surakarta, ditengah teknologi belanja yang sangat dimudahkan,” kata Subagiyo.

Kedepan, menurut dia, pasar - pasar tradisional Kota Solo dapat melakukan hal yang sama seperti di Pasar Gede. Di samping sebagai pasar murah untuk masyarakat. Perayaan seperti itu bisa menjadi sebuah promosi budaya pasar yang ada di Solo.(ihm,G8-20)

Berita Lainnya