image
31 Desember 2017 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Refleksi

OlehMudjahirin Thohir

SEHARIlagi kita memasuki tahun 2018. Tahun baru boleh jadi dunia baru, bisa pula tak ada yang baru. Tahun baru hanya soal perubahan nama waktu menurut kalender Masehi, yang berbeda dari tahun Jawi atau Hijri. Namun terlepas dari namanya, tahun Masehi sudah jadi pedoman dalam kehidupan umum masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Apa yang penting di balik kehadiran tahun baru? Menurut orang-orang arif, kita perlu berefleksi. Bermuhasabah menurut bahasa santri. Melihat kembali solah-tingkah kita sebagai warga bangsa. Bangsa Indonesia yang beragam, termasuk dalam budaya dan agama.

Apakah dalam keragaman kita menjadi bagian yang menyatukan atau justru meneguhkan pola hidup parsial? Mari kita wisata ke dunia rimba agar makin tahu bedanya dari dunia manusia. Dunia yang meneguhkan ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi.

***

DIdunia rimba, singa, binatang karnivora, dapat bertahan hidup, asal masih bisa memangsa binatang lain, misalnya rusa, sebagai santapan. Singa mesti bisa berlari cepat mendahului rusa yang berlari paling lambat. Jika tidak, singa akan lapar dan mati. Agar terbebas dari bahaya, rusa mesti bisa menghindar.

Rusa mesti mampu berlari lebih cepat dari singa yang tercepat. Itulah dalil hidup berdasar hukum rimba. Menerkam lawan atau menghindar dari ancaman. Dalam hukum rimba seperti itu, berlaku adagium siapa lemah dimangsa yang kuat. Setiap pagi, seekor rusa bangun.

Dia tahu harus lari lebih cepat daripada singa yang tercepat atau akan dimangsa. Setiap pagi, seekor singa bangun. Dia tahu harus mendahului rusa yang berlari paling lambat atau akan mati kelaparan. Tak penting apakah singa atau rusa, begitu matahari terbit, lebih baik Anda segera berlari.

***

LAINbinatang, lain manusia. Manusia secara umum berwatak dasar melayani sesama; yang kuat menolong yang lemah. Itu kata agama. Intinya, agama menyarankan manusia menjadi makhluk saling berbagi.

Tolong-menolong atau bergotong-royong menurut bahasa sosial. Menurut ungkapan Jawa, ajining dhiri saka lathi lan budi. Ajaran agama atau ajaran sosial itu disebut norma atau etika sosial kehidupan bersama.

Itulah das sollen, yang seharusnya atau yang ideal. Namun dalam praktik alias das sein, manusia bisa berlaku sebaliknya. Homo homini lupus, manusia bak serigala bagi sesama. Sapa lena bakal cilaka. Mengeksploitasi, menyerang, bahkan membunuh.

Jika singa menerkam rusa hanya karena satu alasan, yaitu kebutuhan bertahan hidup, manusia mengeksploitasi sesama atau menyerang dan membunuh manusia lain karena menganggap mereka musuh. Dari mana awal mula kedatangan musuh? Jawaban tergantung pada sudut pandang kita.

Jika musuh itu sebagai kata, ia dimulai dari bahasa. Lewat bahasa, manusia mengenal konsep kawan dan lawan. Kata ”kawan” mengacu ke kesamaan, baik asal-usul, keinginan, maupun agama yang dianut. Lawan adalah segala yang berbeda.

Itulah soal psikologi alias kejiwaan. Artinya, dalam bahasa ada pikiran. Pikiran manusia berwujud seperti apa, banyak dipengaruhi oleh mereka berkumpul, berkelompok, dan berorganisasi dalam satuan sosial seperti apa.

Jika motivasi perkumpulan itu kekhawatiran dan kecurigaan, semangat yang hadir adalah pemilahan. Pemilahan atas dasar perbedaan dalam kaitan ekonomi atau sosial politik atau bahkan agama.

Jika sudah begitu, apa pun nama perkumpulan itu, punya kecenderungan umum berupa pemahaman, sikap, dan tindakan parsial. Di dunia ekonomi, tindakan parsial muncul lewat eksploitasi pengusaha terhadap pekerja.

Di dunia sosial politik, tindakan parsial terwujud dalam dominasi mayoritas pada minoritas. Di dunia keagamaan muncul pemahaman arus utama lawan kelompok di luarnya sebagai pengikut paham menyimpang.

Makin berbahaya cara berpaham keagamaan secara parsial ketika ditarik masuk untuk kepentingan politik pilkada. Akibat paling mudah dikenali, orang yang dianggap tokoh agama menyandang aura tak menenteramkan, tetapi justru menghadirkan aura kebencian pada siapa pun yang berbeda paham dan pilihan politik.

Apakah pandangan parsial akan diakhiri atau sebaliknya direproduksi? Dari sinilah arti penting pemerintah mengantisipasi kemungkinan kemunculan gerakan yang memecah-belah kesatuan warga bangsa.

Tahun 2018 adalah tahun politik pilkada. Bakal banyak pihak berkompetisi untuk memenangi pemilihan kepala daerah. Untuk menjaga ketertiban umum, kita mesti sepaham: penyebaran kebencian berdasar dalih apa pun adalah tindak kejahatan. (44)