image

SM/Aristya Kusuma Verdana

24 Desember 2017 | Bincang-bincang

Emil Heradi: Film Punya Kekuatan Mengubah Keadaan

Nama Emil Heradi mencuat setelah film yang dia sutradarai, Night Bus, memenangi Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Dia termasuk generasi terbaru di dunia layar lebar negeri ini yang bangkit kembali. Bagaimana pandangan dia mengenai dunia perfilman kita? Berikut perbincangan wartawanSuara MerdekaAdhitia Armitrianto dan Aristya Kusuma Verdanadengan dia saat berkunjung ke Kota Semarang.

Bagaimana awal mula Anda tertarik pada perfilman?

Saya mulai sejak 1998. Waktu itu, saya berbekal kamera ikut beberapa aksi mahasiswa. Pada akhir tahun, saya berangkat ke Amerika (Serikat). Panjang cerita sebenarnya. Namun waktu di sana saya dikirimi film Pasir Berbisik. Setelah itu saya langsung tertarik membuat film. Bukan sekadar film, melainkan yang memiliki pesan. Tentu karena waktu itu saya masih terbakar semangat pergerakan 1998. Kemudian saya kembali ke Indonesia, kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan mulailah terlibat dalam pembuatan beberapa film.

Perfilman Indonesia saat ini pada tahap apa?

Rasanya kini saatnya lahir beragam genre film Indonesia yang makin berani dan beragam. Dulu baru cita-cita, sekarang sudah dibuat. Sebut saja Parjo dengan realisme sosialnya, Mouly melahirkan Satay Western, serta horor yang gak murahan dari Joko anwar. Banyak filmmaker muncul di sudut lain dunia dan mereka muda-muda. Ada Mouly, Edwin, Wregas, Anggi Noen, Parjo... eh Wicaksono Wisnu Legowo, Sidi Saleh, Basbeth, dan lain-lain.

Jakarta juga bukan lagi kiblat. Makin banyak filmmakermuncul dari luar Jakarta. Itu memperkaya khazanah perfilman kita.

Night Bus sukses pada FFI lalu dengan meraih enam piala. Bagaimana proses produksi yang Anda lalui?

Prosesnya panjang dan berliku- liku. Dimulai dari cerita Rifnu Wikana (aktor utama film itu yang berhasil meraih gelar aktor terbaik pada FFI 2017) kepada saya pada 2010. Rifnu itu pendongeng yang enak banget kita dengar.

Suatu malam, saat sedang syuting film Merah Putih, dia berkisah panjang tentang perjalanan seorang wartawan dari kota Rampak ke Sampar, daerah yang hancur oleh konflik. Cerita itu memikat saya, terutama bagian kecil dalam film itu, yakni bagian perjalanan di dalam bus. Setelah malam itu, saya berniat membuat cerita monolog itu menjadi cerita film.

Namun ternyata butuh bertahun- tahun untuk mewujudkan menjadi skenario film. Rifnu pernah menjadikan cerita itu sebagai cerpen. Pada 2013, kami bertemu dengan Rahabi Mandra, kawan lama yang nekat menyatakan diri siap menjadikan cerita itu sebagai skenario.

Jadi skenario draft pertama pun ternyata tidak membuat semua mudah. Kami pernah membawanya keliling dari produser ke produser, PH (rumah produksi) ke PH, mencari siapa yang mau membuat film itu. Taun 2014 menjadi momen penting untuk Night Bus. Darius Sinathrya mau membantu produksi film itu.

Kami juga ikut workshop film yang diadakan British Council dan Film London. Dari sana kami belajar banyak soal bisnis film dan mempertajam ide dari film kami. Darius bertekad dalam enam bulan kami harus syuting. Tim Night Bus dibantu kawan-kawan kemudian mencari pemain ke kampus-ke kampus di berbagai kota, seperti Jakarta, Semarang, dan Medan. Kami juga menjalankan crowdfunding, walau tak banyak yang terkumpul.

Untuk urusan pemain kami bertemu Mas Yayu, Tio Pakusadewo, Tino Saroengallo, Alex Abbad, dan Toro Margens. Selain itu juga Rahael Ketsia yang kami “temukan” saat kasting di Universitas Pelita Harapan. Hampir semua dari mereka jatuh cinta pada ceritanya dan punya semangat sama dengan kami; total berkarya dalam keterbatasan.

Proses pascaproduksi pun tidak cepat. Butuh waktu sekitar satu setengah tahun sampai akhirnya bisa tayang di bioskop. Namun gak nyangka, film itu harus turun dari bioskop setelah sekitar seminggu dan ditonton oleh hanya sekitar 20.000 penonton. Ternyata kami masih lemah dalam menjual film itu. Bukan saat yang bagus untuk Night Bus.

Setelah menang di FFI,Night Bus tayang lagi di bioskop. Adakah perbedaan penerimaan penonton?

Ya, lima bulan setelah tayang, pada ajang FFI di Manado, kami meraih penghargaan film terbaik. Tak kami sangka memang. Namun itu menjadi “upah” yang melegakan bagi para kru dan pemain yang bertahun-tahun bekerja keras untuk film itu. Sekaligus semangat buat Night Bus Pictures untuk nekat bikin film lagi.

Setelah menang, pengelola bioskop memberi kami slot untuk tayang lagi. Baru saat itulah banyak orang yang dengar film Night Bus. Penonton yang belum sempat nonton, bisa nonton. Ada yang bahkan bingung kenapa belum sempat nonton film itu.

Kami pernah nonton bareng juga dengan Komnas HAM. Jadi kami bertemu orang-orang yang bukan hanya ingin menonton film, melainkan juga penonton yang peduli terhadap masalah kemanusiaan, konflik, dan hak asasi manusia. Night Busberhasil bertemu penontonnya. Saya selalu percaya memang setiap film punya nasib masing-masing.

Saat ini, ada beberapa festival film yang digelar di Indonesia. Seberapa penting peran festival untuk perkembangan film?

Festival mengenalkan ke penonton Indonesia terutama film-film yang sebelumnya kurang terdengar, padahal berkualitas. Bukan hanya satu-dua, melainkan banyak. Namun belum semua orang peduli pada festival. Banyak yang lebih suka apa yang lagi tren, entah di media sosial atau dari apa yang dianggap bagus oleh lingkungan. Ya, itu tak salah juga.

Festival juga bisa jadi tempat buat kawan-kawan yang mungkin punya semangat tinggi mempertontonkan karya. Film-film yang tak punya modal besar, tak punya jaringan besar untuk memperkenalkan film itu, bisa dikenal penonton dari festival. Mudahmudahan dari sinilah standar film kita makin bagus. Ada benchmarkyang bisa dikejar.

Kelahiran Jogja Asian Film Festival, Festival Film Aceh, sedang akan berlangsungnya Festival Film Jambi bisa menjadi pemicu kemunculanfilmmaker-filmmakeryang bagus dari daerah-daerah tempat berlangsung acara. Mudah-mudahan kelak muncul juga di tempat-tempat lain, di Semarang mungkin atau Papua.

Melihat rekam jejak Anda termasuk yang meyakni film adalah pembawa pesan. Seberapa efektif pesan itu sejauh ini?

Dari film Rambodan Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI kita tahu film punya potensi membuat orang “percaya”. Rambo bisa membuat penonton percaya Amerika Serikat memenangi perang Vietnam. Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKIbisa bikin kita... ya gitulah.... Ha-ha-ha!

Namun tinggal kita, pembuat film, mau menyampaikan pesan apa. Saya rasa kita punya tanggung jawab di situ. Selain menggambarkan zaman ia hidup, ia juga punya kekuatan untuk mengubah zaman. Paling tidak dia sadar film bisa melakukan itu.

Termasuk dalam film Menolak Diam yang baru-baru ini Anda buat?

Ya, tentu saja. Dalam film itu, sejak awal saya ingin bicara tak hanya paparan soal korupsi. Bersama dengan Transparency International (TI) Indonesia dan Night Bus Production, saya mengungkapkan saatnya kita harus menyuarakan perlawanan. Mengajak masyarakat melawan korupsi. Film itu kini diputar di beberapa kota jaringan TI. Saya berharap bisa menginspirasi.

Bagaimana prospek film Indonesia ke depan?

Kalau dibandingkan dengan Hollywood, ya kita kalah dana. Sementara dengan negara tetangga di Asia, bisa dikatakan kita masih kalah soal ketertontonan. Namun soal ide, Indonesia tak pernah kalah. Kita punya problem di negeri ini yang sangat cukup menjadi ide pembuatan ribuan film. (44)

Berita Lainnya