image
24 Desember 2017 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

The Last Judgement

  • Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU’ALAIKUMWarahmatullahi Wabarakatuh.

Google menyatakan isi Alquran Surah Yasin Ayat 65 sebagai berikut, “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” Guru ngaji cucu saya menyatakan kalimat aslinya sebagai berikut, “Al yauma nakhtimu ëalaa afwaahihim wa tukallimunaa aidihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun.”

Maksud kalimat itu adalah pada hari kiamat kelak, pada waktu terjadi pengadilan terakhir oleh Tuhan langsung terhadap umat manusia, Tuhan tak membiarkan manusia berbicara dengan mulut karena pasti cenderung tidak jujur alias berbohong. Tangan manusialah yang “berbicara” mengenai apa yang telah dilakukan, sedangkan kaki akan bersaksi mengenai kejadian sesungguhnya.

Kalimat itu bisa diartikan, Tuhan tidak lagi memerlukan ucapan mulut manusia, tetapi mengandalkan gerak atau gesture tangan atau kaki (bahasa tubuh). Bisa juga berarti bahasa tangan adalah sidik jari atau tanda tangan (signature) dan gambar telapak kaki seperti terdapat di makam Ibrahim. Namun bisa juga diartikan tangan berbicara tidak lain hasil karya tangan dan kaki yang semua bisa dianggap bukti hukum tidak terelakkan.

Kalimat itu bisa diartikan sebagai hasil catatan malaikat Raqib dan Atid atas semua perilaku manusia yang bisa dianggap sebagai bukti hukum yang sah. Patut diketahui, buku catatan malaikat itu bisa berupa rekaman tertulis atau visual seperti video.

Menurut pandangan ahli psikologi analis dari Rusia, semua catatan malaikat baik tertulis maupun video bisa berupa rekaman simpul-simpul saraf otak. Kalau data dalam simpul saraf otak di bawah sadar itu disengat atau diaktifkan dengan sengatan listrik, segera si pelaku melihat seluruh fakta hukum sebagaimana terekam dalam simpul saraf. Kalau semua rekaman dalam simpul saraf hancur oleh kematian atau bencana alam, yang berlaku yang tersimpan dalam master rekaman di sisi Tuhan.

Tampaknya praktik hukum di masyarakat manusia di dunia sekarang sesuai dengan gambaran menurut bahasa agama atau ilmu psikologi analis itu. Itu tidak lain berarti mengesampingkan faktor bahasa lisan terdakwa dan lebih mementingkan rekam jejak tertuduh sebagai bukti hukum.

Dalam kasus Setya Novanto, sebagai terdakwa dia tak perlu disumpah karena terdakwa berhak tidak menjawab, berhak diam, berhak mungkir, berhak berbohong, bahkan pengakuannya pun bukan bukti hukum. Kebenaran ada dalam rekam jejak tangan dan kaki sebagai bukti hukum dan pernyataan saksi hidup. Namun saksi dan hakim manusia biasa yang bisa berbohong, kena sogok, bisa terbatas, bisa punya kepentingan. Karena itu, kita yakin seluruh proses peradilan di dunia bersifat relatif dan tidak bakal menemukan kebenaran hakiki ñ yang hanya bisa ditemukan pada peradilan akhir atau biasa disebut The Last Judgement.

Karena itulah, kita tak bisa mengharap terlalu banyak dari proses hukum di dunia. Namun kita masih bisa mengurangi atau memperkecil kemungkinan subjektivitas hukum dengan menerapkan sistem juri dalam proses peradilan. Hakim hanya sebagai ketua mahkamah, sedangkan proses hukum dilakukan oleh sejumlah tokoh masyarakat atau ahli hukum yang dikarantina sebelum bersidang menentukan keputusan hukum.

***

PADAmasa kecil, dalam berbagai permainan anak-anak, manusia sering mencari kebenaran dalam menyelesaikan perbedaan paham dengan mengucap sumpah, seperti berani ditabrak truk, disambar geledek, jika berbohong. Secara sederhana, sistem juri sudah dilakukan pada masa kecil dengan mengundi melalui hompimpa atau pingsut. Kalau masih ada keraguan, mereka mengundi sampai tiga kali, yang merupakan keputusan akhir.

Sampai sekarang saya tak habis pikir, mengapa menjelang saya masuk sekolah menengah pertama, orang tua selalu menekankan anak-anak boleh belajar setinggi apa pun, asal tidak menjadi polisi atau pejabat hukum. Karena, kedua jabatan itu terlalu rawan untuk selalu bisa tahan godaan.

Ketika saya sering mendapat peluang berceramah tarawih keliling di berbagai kampus, termasuk di Akademi Kepolisian, saya mendapati kenyataan kurikulum pendidikan sangat menolak kemungkinan terjadi godaan. Namun dalam kenyataan masih ada oknum pejabat kepolisian atau sarjana hukum di berbagai instansi seperti kejaksaan atau kehakiman yang tergoda. Nah, itulah kenyataan manusia.

Jadi siapa yang salah? Ya mboh. Wallahu’alam. Akhirnya, yang bisa kita harapkan adalah kemungkinan kemunculan para pejabat hukum yang tangguh dan tak mudah tergoda. Misalnya, patung polisi atau polisi tidur. Jangan lupakan pula tokoh kontroversial seperti Hoegeng Imam Santoso, Bismar Siregar, Baharudin Lopa.

Sekian dulu. Selamat tahun baru 2018 dan selamat berlibur! Sampai jumpa tahun depan.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(44)

Berita Lainnya