image

SM/Agung Mumpuni - Mata air suci

24 Desember 2017 | Jalan-jalan

Menjumpai Maria di Bukit Bulbul

  • Oleh Agung Mumpuni

TEMPATperistirahatan Bunda Maria tak hanya ada di Yerusalem. Di kota Selcuk (baca Seljuk), Provinsi Izmir, Turki, juga ada tempat yang diyakini sebagai peristirahatan Maria. Itulah The House of the Virgin Mary atau dalam bahasa Turki disebut Meryem Ana Evi atau Panaya Kapulu (pintu masuk menuju Sang Perawan).

Tempat itu berada di salah satu puncak tertinggi di Turki, Pegunungan Bulbul. Tempat yang jauh itu seolah-olah melegitimasi, dalam budaya manusia, tempat suci berada di dataran tinggi, jauh dari keramaian. Mungkin makin tinggi suatu tempat suci kian dekat pula dengan langit; simbol tempat surga berada.

Di tempat itu, Anda bukan sekadar menyaksikan bagaimana peradaban bergulir melalui peninggalan sejarah. Meryem Ana Evi juga menjadi saksi bisa pemersatu umat dua agama. Umat muslim menghormati dan bahkan menjadikan Meryem Ana Evi sebagai tempat persinggahan berziarah. Tak ada gesekan antara warga berbeda agama.

Padahal, Turki memiliki penduduk muslim sekitar 80 persen dan 20 persen Katolik. Negara itu tumbuh menjadi negara dengan warga yang hidup berdampingan secara toleran, saling menghormati. Tak ada kendaraan umum bisa membawa pengunjung ke kawasan itu. Ada tiga pilihan untuk mencapai tempat yang dibuka pada pukul 08.00-19.00 waktu Turki itu. Pertama, naik taksi khusus berwarna kuning dari Otogar Selcuk dengan ongkos 60 lira pergi-pulang.

Supir taksi akan menunggu selama Anda berziarah. Kedua, ikut day tour yang sudah termasuk mengunjungi kota kuno Ephesus. Ketiga, bisa juga Anda naik motor sewaan. Ikuti saja arah menuju pintu masuk Ephesus (upper gate), lalu ikuti jalan menuju ke rumah Bunda Maria. Untuk mencapai tempat itu, Anda harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer dari situs kota kuno Ephesus. Selama perjalanan, Anda akan melewati ladang dan kebun zaitun yang indah. Lalu jalanan naik ke dataran tinggi.

Dari kejauhan Anda bisa melihat uap lembap diangkat oleh efek dari matahari, tetapi masih menempel di Gunung Koressos atau Bulbul Dagi (bahasa Turki) atau Gunung Nightengale. Begitu memasuki kawasan Meryem Ana Evi, Anda akan melewati sebuah pos jaga yang dikawal seorang tentara yang berdiri siaga menyandang senapan.

Mungkin untuk mengantisipasi pengeboman objek sejarah dan tempat ziarah itu oleh kaum ekstremis. Anda bisa masuk setelah membayar tiket sekitar 20 lira. Dari tempat parkir, Anda harus melewati jalan setapak dengan papan-papan besar di sebelah kanan yang mendukung kebenaran tempat itu sebagai rumah Bunda Maria. Ada kutipan ayat-ayat dari kitab Yohanes ketika Kristus berkata, “Ibu ini anakmu.”

Patung Bunda Maria di jalan setapak menuju kapel seolah-olah menyambut Anda di rumahnya. Tampak pepohonan pinus yang menghijau, pohon zaitun dengan buah kecil-kecil, dan di lembah bukit, pohon-pohon maple merontokkan dedaunan berwarna kuning, memberikan warna pada tanah. Tampak pula sebuah sumur tua tanpa air.

Biarawati Emmerich

Di House of Virgin Mary ada sebuah kapel (gereja kecil) dari era Bizantium. Kapel itu dipercaya pernah ditinggali Bunda Maria. Ada dua kubah kecil dan dua buah jendela yang berseberangan. Rumah itu dinaungi pohon pelindung di bagian depan. Ada bagian altar yang memiliki relung dan patung Bunda Maria yang menadahkan tangan. Rumah itu terlihat sederhana, berupa bangunan batu yang dijaga beberapa biarawati. Rumah berbentuk Titu terdiri atas sebuah kamar tidur (sebelah kanan) dan dapur (bagian kiri). Bagian dalam dipertahankan tetap sederhana, dilengkapi hanya dengan sebuah tempat api (fireplace) altar, imaji Maria, dan lilinlilin.

Di sana juga ada mata air. Air yang mengalir keluar kapel melalui tiga keran itu dapat diminum para peziarah dan pengunjung. Seorang pendeta selalu hadir di sana untuk memberikan informasi kepada peziarah dan pengunjung. Bangunan asli telah dipugar menjadi seperti yang tampak sekarang dan berfungsi layaknya kapel. Ketika kali pertama ditemukan, terlihat tanda-tanda di reruntuhan bahwa bangunan itu telah dimuliakan oleh umat nasrani di perkampungan yang cukup jauh, yang merupakan keturunan umat nasrani Ephesus. Mereka meyakini itulah rumah Bunda Maria berdasar bukti penemuan makam Yohanes.

Apalagi telah dibangun Gereja Maria sebagai basilika pertama di dunia pada abad V. Keduanya berada di Ephesus. Rumah kecil itu ditemukan pada awal abad XIX setelah Biarawati Anne Catherine Emmerich dalam buku harian menulis sejumlah penggambaran sosok Bunda Maria. Emmerich menyebutkan Yohanes membangun rumah batu di luar kota Ephesus di atas sebuah gunung. Emmerich menceritakan penglihatan itu kepada seorang penulis, Clemens von Brentano. Emmerich seumur hidup sakit-sakitan dan tak pernah meninggalkan Jerman.

Namun dia bisa menjelaskan secara detail rupa rumah itu. Dia melukiskan bangunan batu persegi panjang, dengan jendela hampir sama dengan tinggi atap bangunan. Dia juga secara detail menulis letak pintu rumah dan perapian. Buku itu terbit tahun 1852 di kota Munich, Jerman. Oktober 1881, seorang pendeta Prancis menemukan sebuah rumah di atas bukit yang menjorok ke Laut Aegean.

Dia memercayai bangunan batu itulah rumah Bunda Maria, sebagaimana penampakan yang diberitakan Emmerich. Pada 1896, Sri Paus kali pertama mengunjungi rumah itu. Dan pada 1951, Sri Paus Pius mengesahkan rumah itu sebagai rumah Bunda Maria. Umat Katolik pun menyakralkan rumah itu. Hingga kini, rumah itu dijaga tentara Vatikan. Walau bangunan rumah itu berasal dari abad V, fondasinya berasal dari abad I. Diyakini, Bunda Maria memang pernah benar-benar tinggal di sana.

Meski Gereja Katolik belum pernah menyatakan tempat itu sebenar-benar rumah Bunda Maria, beberapa Paus pernah mengunjungi dan mengadakan misa di sana. Salah satunya Paus Benedictus XVI. Rumah Bunda Maria juga masih merupakan tempat ibadah. Pengunjung dapat mengikuti misa setiap Minggu pukul 10.30. Misa khusus juga diadakan pada peringatan hari terangkatnya Bunda Maria ke surga (Anunciation) yang jatuh pada 15 Agustus setiap tahun.

Penduduk lokal pun merayakan Hari Kenaikan Bunda Maria setiap 15 Agustus. Pengunjung dapat masuk ke rumah peristirahatan itu secara bergantian. Namun dilarang memotret di dalam rumah. Suasana terasa hening di dalam rumah itu. Ruang dalam hanya diperuntukkan bagi orang untuk berdoa dan berkunjung.

Anda bisa melihat sebuah altar dengan patung Bunda Maria dan alkitab berbahasa Turki yang terbuka pada kitab Injil Yohanes Pasal 19. Beberapa pengunjung tampak khusyuk berdoa di tempat yang dikunjungi umat kristiani dan muslim itu. Ada pojokan khusus bagi kaum muslim untuk berdoa. Saat keluar dari rumah itu, Anda dapat menuruni tangga yang mengarah ke sumber air. Air dari sumber itu dipercaya dapat menghilangkan penyakit dan memberikan kesuburan. Anda bisa mengisi botol minum dan meminumnya.

Dekat mata air ada dinding harapan. Dekat pintu masuk ke taman, Anda akan menemukan Cafe Restaurant Turco dan pedagang lokal yang menjual suvenir, kartu pos, buku panduan. Di sekitar daerah itu, Anda juga dapat melihat penjaga. Namun mereka menolak dipotret.(44)

SMCETAK TERKINI