image

Foto: Istimewa

15 Februari 2018 | 06:57 WIB | Ekonomi dan Bisnis

Dana Pungutan Ekspor Sawit Ditargetkan Capai Rp 11 Triliun

JAKARTA, suaramerdeka.com- Dana pungutan dari ekspor sawit pada tahun 2018, ditargetkan mencapai sekitar Rp 11 triliun. Angka ini menurun dibandingkan realisasi dana pungutan ekspor sawit tahun 2017 yang mencapai Rp 14,3 triliun.

Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Rusman Heriawan, mengatakan turunnya target dana pungutan dikarenakan semakin menurunnya porsi ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) saat ini.

 "Tidak semua yang diekspor itu ada pungutannya. Porsi ekspor CPO kan semakin kecil. Jadi jangan dianggap volume itu linear dengan dana pungutan, karena kalau CPO menciut yang banyak ekspor downstreamnya rata-rata 20-30 dolar AS per ton ya makin kecil," kata Rusman dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2018 di Bandung, beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui, dana pungutan ekspor untuk CPO memang paling besar yakni 50 dolar AS per ton. Sementara produk turunan sawit lainnya, pungutannya berkisar 10 sampai 30 dolar AS per ton. Adapun ke depannya, ekspor CPO akan terus menurun seiring dengan pertumbuhan produk hilir sawit.

Rusman menambahkan setiap bulan pada 2017, realisasi dana pungutan ekspor sawit selalu melewati Rp 1 triliun dimana tertinggi pada bulan Agustus yang mencapai Rp 1,5 triliun. Dia memaparkan realisasi ekspor produk sawit sepanjang 2017 mencapai 37,3 juta ton dengan ekspor terbesar masih CPO mencapai 5,7 juta ton. Sisanya, adalah produk turunan sawit.

Menurut Rusman, negara importir sawit Indonesia terbesar adalah India dengan jumlah 7,6 juta ton, diikuti Tiongkok sebanyak 4,01 juta ton, Belanda 3,3 juta ton,  dan Pakistan sebanyak 2,3 juta ton. Negara lainnya adalah Bangladesh, Amerika Serikat, dan Selandia Baru.

Rusman memaparkan dana pungutan yang berhasil dihimpun digunakan untuk peremajaan (replanting) 185 ribu hektar pada tahun 2017. Alokasi ini mencapai 22?ri total dana pungutan. Kemudian, untuk biodiesel sebesar 3,5 juta kiloliter atau mencapai 70?ri alokasi dana. Sisanya, digunakan untuk pengembangan SDM termasuk di dalamnya riset sektor sawit 2?ri alokasi, promosi 2%, sarpras2%, dana cadangan 4%, dan lain-lain.

Khusus untuk riset, BPDPKS mengalokasikan dana mencapai Rp 40 miliar, naik dari alokasi di tahun sebelumnya sebesar Rp 37,3 miliar. Diharapkan, riset tersebut dapat diimplementasikan untuk pengembangan industri sawit dari hulu ke hilir.

Dia menambahkan, selama ini inovasi yang dimiliki industri kelapa sawit masih minim, sehingga riset sangat diperlukan untuk menciptakan inovasi dan kreativitas sesuai dengan mandat penyaluran dana BPDP Kelapa Sawit yang tertuang dalam PP no. 61 tahun 2015.

"Evalusi kami itu riset memberi manfaat maksimal tidak. Jangan sampai banyakin buku tapi tidak bermanfaat di lapangan baik hulu maupun hilir itu intinya. Jadi bukan seberapa besar dananya tetapi seberapa besar manfaatnya," imbuhnya. 

(Kartika Runiasari /SMNetwork /CN39 )