image

DENGARKAN PENGAKUAN: Kapolres Semarang, AKBP Agus Nugroho, didampingi Kasat Narkoba Polres Semarang, AKP Angudi Sambodo, mendengarkan pengakuan dua pelaku pengedar obat keras penggugur kandungan di halaman Polres Semarang, Selasa (13/2). (suaramerdeka.com/Ranin Agung)

13 Februari 2018 | 20:43 WIB | Semarang Metro

Dua Pengedar Obat Keras Diringkus

UNGARAN, suaramerdeka.com- Dua pengedar obat keras tanpa resep dokter diringkus Sat Narkoba Polres Semarang, awal pekan lalu. Erwin Maulana (27) warga Kelurahan Gemah RT 01 RW VIII Pedurungan Kota Semarang dan Eko Arif (19) warga Blater RT 01 RW VI Bandungan Kabupaten Semarang diamankan ketika transaksi dengan pemesan di Dusun Manggung, Jimbaran, Bandungan.

Kapolres Semarang, AKBP Agus Nugroho mengatakan, keduanya diringkus karena diduga mengedarkan obat untuk menggugurkan kandungan tanpa izin. “Padahal obat itu tergolong obat keras dan wajib ada izin serta resep dokter spesialis kandungan, namun yang terjadi dua pelaku ini mengedarkan bebas mengabaikan unsur kesehatan,” katanya, ketika gelar kasus di halaman Polres Semarang, Selasa (13/2).

Dari tangan kedua pelaku, polisi menyita satu strip berisi sepuluh butir obat Cytotec. Kemudian satu ponsel dan motor Honda Vario H-2457-YV. Di hadapan penyidik, Eko alias Kodok mengaku mendapat pasokan obat tadi dari Erwin seharga Rp 500.000,-/strip. Kepada pemesan, penjual sayur keliling ini menjual Rp 750.000,-/strip. “Rata-rata pemesannya adalah pemandu karaoke di Bandungan. Pesannya lewat media sosial,” kata Eko.

Erwin sendiri menuturkan, sebagai pemasok dirinya sudah beraktivitas menjual obat keras tadi sejak November 2017. Ada pun reaksi obat ini, menurutnya mulai bekerja setelah dikonsumsi tiga atau empat jam. Artinya, dengan mengonsumsi janin usia di bawah usia tiga bulan kandungan bisa gugur.

“Obat tadi saya dapat dari memesan juga, transaksi ke konsumen di Kabupaten Semarang sudah berjalan sejak akhir 2017 tepatnya November,” tuturnya.

Di samping berkoordinasi dengan tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Semarang untuk uji lab terkait kandungan kandungan obat tadi, Sat Narkoba Polres Semarang saat ini masih mendalami keterangan pelaku dan saksi. “Keduanya kita jerat dengan Pasal 196 dan Pasal 197 Undang undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1 miliar,” tegas AKBP Agus Nugroho.

(Ranin Agung /SMNetwork /CN40 )