image

PASAR EMBUN PAGI : Suasana hiruk-pikuk perdagangan di Pasar Embun Pagi Limpung, Batang yang buka pukul 03.00-06.00. (suaramerdeka.com / Ali Arifin)

09 Februari 2018 | 08:12 WIB | Liputan Khusus

Sudah Ramai Sejak Pukul 03.00

  • Pasar Embun Pagi Limpung

PUKUL02.00, mobil pikap yang dikemudikan Sukron keluar dari garasi rumahnya di Weleri, Kendal menuju Pasar Embun Pagi Limpung, Batang. Sekitar satu jam perjalanan, mobil bak terbuka itu sudah nongkrong berjajar di pasar yang terletak di sebelah timur Pasar Limpung, Batang, bersama 150 pedagang lainnya.

Tak berapa lama kemudian, para pembeli yang rata-rata pedagang latengan (warung makan-red) dan pedagang entek (pedagang sayur keliling) sudah mengitari bak mobilnya. Mereka memilih beragam jenis ikan segar bandeng, tuna, udang, cumi, bawal, kakap, dan lainnya yang berada di dalam wadah yang terbuat dari styrofoam.

Hal yang sama juga dilakukan oleh April. Pukul 02.00 dia sudah memacu mobil dari rumahnya di Sukorejo, Kendal, menuju Pasar Embun Pagi Limpung. Di mobilnya, April mengangkut beragam jenis makanan atau snek yang biasa disebut jajan pasar.

"Sudah lebih dari dua tahun ini saya berjualan di pasar ini. Berangkat dari rumah harus pagi, sekitar pukul 02.00, agar bisa sampai Limpung sebelum pukul 03.00. Sehingga begitu pukul 03.00 dasaran sudah siap saya gelar dan para pembeli yang kebanyakan sudah langganan tinggal memilih ikan apa yang mereka suka," jelas Sukron.

Baik Sukron maupun April mengaku memilih menggelar dasaran di Pasar Embun Pagi Limpung, karena setiap hari selalu ramai pembeli. Baik itu pembeli untuk keperluan sehari-hari maupun para pedagang warung makan yang sudah sekian tahun menjadi langganan mereka. "Kebanyakan pelanggan saya adalah para pedagang makanan kecil atau snek dan pedagang entek. Baik itu dijual lagi di warung maupun yang berjualan dengan mobil bak terbuka di pinggir jalan,'' kata April.

Pedagang Keliling

Kepala Pasar Limpung, Batang, Indiharto menjelaskan, bahwa beberapa tahun silam, di belakang (sebelah timur) Pasar Limpung selalu berkumpul belasan pedagang. Mereka menggelar dasaran sejak pukul 03.00 hingga pukul 06.00. Dari belasan pedagang sayur, ikan segar, ayam potong, tempe tahu, dan sembako, lambat laun bertambah jumlahnya hingga mencapai 100-an lebih.

Pada tahun 2015 dua orang tokoh pedagang yang paling awal menggelar dasaran di sana, yakni Susanto dan Kasir, kemudian menyatukan para pedagang pasar dini hari itu ke dalam Paguyuban Pedagang Embun Pagi Limpung. "Hingga kini sudah ada sekitar 150 pedagang yang tergabung dalam paguyuban pedagang pasar tersebut,'' jelasnya.

Indiharto yang juga Kasatkoryon Banser Limpung menambahkan, keberadaan para pedagang Pasar Embun Pagi itu sangat bermanfaat bagi ratusan pedagang entek dari sejumlah wilayah di Kabupaten Batang. Antara lain pedagang entek dari Kecamatan Subah, Tersono, Banyuputih, Pecalungan, Gringsing, dan sebagainya.

"Saya senang berjualan di sini karena selalu ramai. Setiap hari bisa menjual 25 kg daging ayam. Meski waktunya singkat, tapi tak pernah sepi, selalu ramai,'' kata Sakdiyah, pedagang ayam pedaging yang mengaku memotong ayam dagangannya sendiri di rumah.

Nurhadi, pedagang ayam yang lain bahkan mengaku setiap hari bisa menjual rata-rata 50 kg daging ayam potong. ''Pelanggan saya banyak, terutama pedagang entek. Namun ada pula pedagang warung makan,'' ujarnya.

Riyowati, pedagang tempe asal Babadan, Limpung, mengaku sangat senang berjualan di pasar itu. ''Berjualan di pasar yang tidak jauh dari rumah, transportasinya mudah dan murah. Setiap hari laku sekitar 50 potong tempe,'' kata Riyowati yang mengaku memasarkan tempe buatannya sendiri.

(Ali Arifin /SMNetwork /CN26 )