image

Foto: Istimewa

28 Desember 2017 | 11:54 WIB | Unik

Bikin Gempar, Kampanye CELUP Ternyata Murni Tugas Kuliah!

Kampanye sosial CELUP (Cekrek, Lapor dan Upload) yang diinisiasi sejumlah mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur mendadak jadi viral. Sebab, gerakan yang disebut "Kampanye Anti Asusila" ini bertujuan "menciduk" orang-orang yang sedang asyik bermesraan, kemudian memotretnya secara diam-diam, dan mengunggahnya ke media sosial sebagai sanksi sosial. Ini selaras dengan tujuan kampanye Celup yang tertulis besar di poster mereka, "Pergokin yuk, biar kapok!"

Kampanye ini sontak menjadi pembicaraan heboh di jagat maya. Sampai hari ini, kurang lebih sekitar 43.500 Tweet menyebut kata "Celup". Dikutip dari akun instagram @cekrek.lapor.upload, CELUP merupakan kampanye anti-asusila yang dilaksanakan untuk mengembalikan fungsi ruang publik yang sesungguhnya alias tidak lagi dipakai untuk tempat orang pacaran.

Tapi jangan harap Anda bisa mengakses lagi akun tersebut. Sebab sejak menimbulkan pro kontra, akun instagram @cekrek.lapor.upload kini tak lagi bisa diakses. Mengapa bisa menimbulkan kontroversi? 

Banyak Pihak Merasa Dicatut

Sejak kemunculan poster ini pertama kali, beberapa pihak yang logonya dicantumkan merasa kegerahan. Seperti dari Detik.com dan C20 Library yang mengklarifikasinya melalui Twitter resmi mereka.

@detikcomKami dari detikcom tidak pernah melakukan kerjasama untuk kegiatan ini dan saat ini kami sedang mencoba meminta klarifikasi dari pihak penyelenggara. Terima kasih.

@c2o_libraryWah, kami baru tahu juga bahwa ada aplikasi & kampanye spt ini. C2O tidak terlibat dalam kampanye ataupun aplikasi Celup. Tidak ada komunikasi ataupun persetujuan dari pihak Celup ke C2O untuk pencantuman logo C2O dalam kampanye Celup.

Corporate Communication Jawa Pos, Puspita, seperti dilansir dari Tirto, id, juga mengaku tak ada kaitan dengan kampanye tersebut. "Mereka memang pernah kami liput. Sepertinya mereka asal saja mencantumkan logo kami karena pernah kami naikkan kegiatannya," tutur Puspita.

Selain itu sutradara kenamaan Joko Anwar juga turut bereaksi atas gerakan ini.

@jokoanwarSementara mahasiswa dari negara lain berinovasi di teknologi untuk kemudahan hidup umat manusia, beberapa mahasiswa Indonesia bikin campaign untuk memotret orang pacaran. Di situ saya berpikir we are doomed.

Klarifikasi dari Inisiator Kampanye

Akibat pro kontra yang muncul, tim CELUP akhirnya menuliskan klarifikasi dan permohonan maafnya atas penyematan sejumlah logo di banner kampanye mereka."Kami CELUP hari ini mengonfirmasi bahwa kami tidak ada keterkaitan dengan media Jawa Pos, Detik.com, TV 9, C2O, Aiola Eatory, dan Pemerintah Kota Surabaya. Logo tersebut dicantumkan karena salah paham hanya untuk izin penempelan poster dan peliputan media. Selebihnya tidak ada dukungan apa pun. Kami juga mengklarifikasi bahwa CELUP belum pernah sama sekali meng-upload foto tindak asusila yang terjadi di lapangan. Jika di-upload pun foto kami sensor dan hanya menunjukkan lokasi kejadian yang bertujuan untuk membantu pengelola tempat untuk menganggulangi tindak asusila. Terima kasih," tulis tim CELUP di akun Instagramnya yang sudah tak bisa diakses sejak pukul 23.00 tadi malam.

Selain itu dalam video klarifikasinya yang diterima suaramerdeka.com, Kamis (28/12), koordinator CELUP, Fadhli Zaki, juga menyatakan bahwa apa yang ia kerjakan bersama timnya murni tugas kuliah.

"Saya Fadhli, mahasiswa Desain Komunikasi Visual memohon maaf yang sebesar-besarnya terutama kepada media yang telah kami cantumkan logonya tanpa sepengetahuan dari media tersebut. Kemudian terhadap logo kampanye kami saya pikir masih banyak kekurangan berikut landasan hukumnya. Saya pikir teman-teman lebih mengetahui dan dapat menjadi media pelajaran terhadap teman-teman dalam melaksanakan tugas kuliah. Saya sekali lagi mohon maaf ini murni tugas kuliah tanpa kepentingan apapun, yaitu untuk melaksanakan kampanye sosial dan menerima respon langsung dari masyarakat. Terima kasih.

Sementara dilansir dari tirto.id, Fadhli dan timnya mengaku telah memikirkan dampak terburuknya. "Kami sudah berpikir paling worst-case, sih. Tapi mau bagaimana lagi. Namanya eksperimen sosial, dan yang bergerak cuma lima orang," tuturnya.

Ia juga memastikan gerakan yang diinisiasinya hanya untuk mengembalikan ruang publik sebagaimana mestinya, bukan untuk tempat pacaran. Mereka megaku telah beberapa kali melakukan kampanye terbuka, di antaranya di Taman Bungkul, Surabaya. Namun Fadhli belum bisa memastikan apakah kampanye tersebut masih bisa berjalan.

"Orang-orang juga sudah malas dukung gerakan kami. Pasca diberitakan plasticdeath OA kita jadi penuh hujatan," terangnya.
 

(Berbagai sumber /SMNetwork /CN41 )